Menu Bar

Rabu, 12 September 2012

Puisi Ariel Buat Ust. Abu Bakar Ba'asyir

Penjara, vonis akhir buat Ariel Peterpan. Penjara juga yang diterima Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Sebuah tempat yang jauh dari bayangan orang yang belum pernah melihatnya. Siapa yang rela menjalani kehidupan di penjara.
Tapi apa jadinya jika Bp. Ust.Abu Bakar Ba’asyir dan Ariel Nazriel bertemu dan berbincang? Seorang ustadz dimana pun dia berada akan sangat dibutuhkan setiap orang, apalagi di saat orang tersebut benar-benar sangat membutuhkan bimbingan dan dalam keadaan putus asa.
Siapa pun pasti sudah pernah mendengar nama besar Ust. Abu Bakar Ba’asyir juga nama artis kondang Ariel Peterpan. Buat anak didik ku di madrasah Al-Ishlah, Saya tidak yakin manfaat apa yang dapat kalian amb
il dari tulisan ini, tapi demikian Allah menciptakan agar ada seseorang yang bisa menjalankan amar ma’ruf nahi munkar, orang yang satu adalah ujian bagi orang yang lain. Supaya Allah bisa melihat siapa di antara mereka yang paling beriman kepada Allah.
Penjara ibarat gambaran kecil kehidupan dunia, di dalam nya ada ustadz, ada rakyat jelata yang terpaksa harus mencuri untuk karena kelaparan, ada pejabat tapi korup, ada artis, ada orang biasa.

Nasehat Ustadz Ba’asyir untuk Ariel Peterpan
"Oh ini toh Ariel? Saya hanya tahu namanya saja," kata Abu Bakar Ba'asyir dalam buku "Kisah Lainnya" Catatan 2010-2012, Ariel, Uki, Lukman, Reza dan David, seperti dikutip dari JPNN. Abu Bakar Ba'asyir sempat beberapa kali memberi wejangan untuk Ariel. Salah satu yang paling dingat Ariel adalah "Jangan berkecil hati. Manusia diciptakan di dunia ini memang untuk dibikin kesalahan, lalu memperbaiki diri. Kalau semua orang sudah tidak bikin kesalahan lagi, maka semua ini akan dimatikan Tuhan, karena tidak ada lagi tujuan kehidupan." Kata-kata tersebut sangat tersimpan di kepala Ariel.

Puisi Ariel Untuk Ustadz Ba’asyir
Suatu hari sekitar pukul 05.00, Ariel yang susah tidur melihat Ompung tua, tahanan lainnya, keluar dari selnya untuk melakukan senam pagi. Tak lama kemudian Abu Bakar Ba'asyir keluar dari selnya menggunakan celana panjang. Ia juga memulai aktivitasnya dengan berlari-lari kecil, bolak balik sepanjang koridor sel.
Mengamati suasana pagi itu, naluri ariel tergugah untuk menuliskan sebuah puisi.
"Ba'asyir tua, berlari kecil di gang yang bergema
Larut dalam dunianya sendiri
Dia tidak menolerensi dunia
Sehingga dunia tidak menolerensinya
Keras memang, tapi apalah arti pendirian jika tidak keras 
Hitam putih, tapi tidak abu-abu 
Keras memang ... 
Andai saja dunia melihat kebenaran yang dia lihat."

Subhanallaah... demikianlah Allah menunjukkan ke Maha Besaran Nya. Semoga Kita bisa mengambil pelajaran dari ini semua... Amien.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar